Jan
17

Antara Pecundang dan Pemenang

Akhir tahun sering dipenuhi dengan perasaan waswas. Penilaian kinerja
segera dilaksanakan. Bagai palu godam, hasilnya hendak
meluluhlantakkan si pecundang. Jangankan bonus yang cukup untuk
tamasya ke mancanegara, untuk ongkos fiskalnya pun kadang tak
mencukupi. Sebaliknya, bagi pemenang, selain bonus besar, juga jaminan
kenaikan gaji yang lumayan di tahun depan. Ini adalah siklus
yang terus terjadi tahun demi tahun. Tak ada hal yang baru. Namun
kenyataannya, gejolaknya masih dirasakan dramatis bagi banyak orang.

Si pecundang akan memainkan trik tertentu untuk memperoleh penilaian
yang lebih besar dari yang seharusnya ia terima. Beribu alasan dan
excuse terus dilontarkan. Industri sedang meradang, kompetisi
bertambah berat, pesaing meluncurkan produk baru, prinsipal tidak
mendukung, persaingan yang tak wajar, pesaing banting harga – itu
adalah alasan basi yang terus dikumandangkan. Si pecundang selalu
akan menunjuk hidung orang lain sebagai biang keladi kekalahan. Lagu
kata “andaikan” terus dimainkan. Andaikan bagian produksi meluncurkan
produknya tahun ini; andaikan bagian keuangan menyetujui down payment
split; andaikan bagian support melakukan factory campaign. Tunjuk
hidung, bukan tunjuk dada. Kesalahan bukan ditudingkan pada dirinya
sendiri.

Kalau pun 8 dari 10 target tidak tercapai, si pecundang masih bisa
menunjukkan bahwa dua target itu sebenarnya sangat besar implikasinya
dibandingkan dengan yang 8. Pecundang memang tak pernah lelah
mengibarkan kesuksesannya, walaupun bagai setitik nila di antara
sebelangga susu. Ia berusaha menjadi pemenang bagi dirinya sendiri.
Sebuah penyangkalan fakta yang teramat naif.

Lain halnya dengan si pemenang, apalagi yang mendapat kategori
istimewa, biasanya tak menduga mendapat predikat itu. Ia pikir biasa-
biasa saja. Ia hanya berpikir yang terbaik saat ini. Kalau sang bos
melihat ia memiliki prestasi prima, baginya itu sebuah pecutan untuk
lari lebih cepat lagi. Penilaian akhir tahun adalah sebuah jeda bagi
si pemenang untuk mengambil ancang-ancang etape berikutnya.

Piala akhir tahun yang ia peroleh, bonus dan kenaikan gaji atau
promosi, selalu beriringan dengan prestasi seluruh anggota
kelompoknya. Pemenang selalu dikelilingi oleh para juara. Ia tidak
pemain tunggal yang berdiri sendiri di puncak. Melainkan, ia adalah
pemain kelompok yang berada di belakang sebuah kelompok juara yang
saling mendukung. Pemenang tidak pernah merasa kesepian seperti
pecundang. Pemenang selalu berbagi tawa dengan kelompoknya. Pemenang
memiliki pendukung pemenang juga, yang pada saatnya bakal
menggantikannya sebagai pemenang baru.

Pemenang selalu merujuk pada rekan sekerja untuk menunjukkan pemenang
sebenarnya. Tidak menunjuk pada dirinya sendiri. Atau meminjam teori
kodok yang perlu menekan ke bawah supaya ia dapat terangkat tinggi.
Hanya soal waktu, pemenang macam beginilah yang dapat bertahan.
Sayangnya, banyak yang mengabaikan hukum alam ini.

Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya kliping 8 tahun
silam, ditulis oleh sahabat saya, Debora. Ia berujar tentang pemenang
yang menang justru dalam sebuah kekalahan. Bukan menang tanpo
ngasorake, melainkan menang tanpa sebuah kemenangan. Pemenang yang
sejati bukan ditentukan oleh sebuah piala, atau rekor, atau medali
fisik, melainkan ditentukan pula oleh sikapnya sebagai pemenang
tatkala medali dan piala itu justru ia berikan kepada orang lain. Ia
bisa dan mampu meraihnya, tetapi ia sadar bahwa medali ini sebaiknya
diserahkan kepada orang lain agar mereka menikmati kemenangan. Ia
sendiri larut dalam kenikmatan kemenangan orang lain.

Begini ceritanya. Jens Lehmann, seorang anak yang menderita cacat
fisik, ikut dalam lomba lari 50 meter di olimpiade khusus kaum cacat
tahun 1968. Sebagai atlet yang mewakili negaranya, Lehmann berharap
membawa pulang medali karena ia memiliki rekor lari dengan kursi roda
yang fantastis. Ia menanti hari pertandingan dengan antusias persis
seperti atlet normal lainnya.

Saat pertandingan tiba, Lehmann dan kedua peserta lain memasuki arena
pertandingan yang kala itu sudah di babak final. Lehmann bergerak cepat
mendahului kedua lawannya ketika pistol berbunyi tanda perlombaan
dimulai. Dia berada 20 meter di depan dan 10 meter dari garis akhir
pada saat ia mendengar bunyi benda yang tertubruk di belakangnya. Ia
memperlambat laju kursi rodanya. Ia melihat ke belakang.

Ia melihat seorang lawannya, anak perempuan, terbentur dinding. Kursi
rodanya berbalik arah dan ia kesulitan untuk mengembalikan ke arah
semula. Lehmann melihat, peserta lainnya – anak laki-laki – berusaha
mendorong kursi roda si anak perempuan untuk kembali pada arah yang
tepat.

Lehmann berhenti. Lalu ia pun berbalik dan menolong si anak perempuan
sehingga kembali seperti semula. Bukan hanya itu. Dengan segenap
kekuatannya, ia mendorong kursi roda si anak perempuan sampai ke garis
akhir. Anak laki-laki yang sempat berbalik arah tadi memenangi
perlombaan itu; sementara si anak perempuan meraih juara kedua;
sedangkan Lehmann kalah.

Benarkah Lehmann kalah? Para penonton berdiri memberi tepuk tangan
meriah untuk Lehmann. Mereka tidak berpikir bahwa Lehmann kalah. Lehmann
tersenyum, ia
merangkul si anak perempuan dan si anak laki-laki yang menjadi
lawannya. Lehmann memang kehilangan medali emas, tetapi ia puas.

Lehmann adalah pemenang sejati. Sejatinya ia tidak merasa kehilangan
medali. Ia tidak merasa kalah. Ia adalah sosok pemenang yang
dibutuhkan bangsa ini untuk maju. Memberi jalan agar yang lain berada
di karpet merah kemenangan. Ia tersenyum bangga, bahwa ia telah
melahirkan jawara baru. Ia adalah jawara sejati. Kapan kita bisa
seperti Jens Lehmann?

Related Post :

6 Comments to “Antara Pecundang dan Pemenang”

  • exelinca March 12, 2009 at 4:40 am

    Yah, bagus juga motivasinya.

    exelincas last blog post..THE RELIABLE BUSINESS CREDIT

    Reply

  • Qayahati February 1, 2009 at 10:51 pm

    Ceritanya bagus bisa menjadi penyemangat hidup.oya mungkin punya resep bagaimana caranya jadi pemenang?

    Qayahatis last blog post..KU BANGUN ISTANA ( DI SYURGA )

    Reply

  • OOM January 17, 2009 at 2:50 pm

    bagus sekali ceritanya my :)

    OOMs last blog post..Membuat Toko Online di Blogger dengan SimpleCart(js) + Paypal

    Reply

  • Arikaka.com January 17, 2009 at 12:21 pm

    Ehm, cerita yang menggugah..
    Ehm, kirain jens lehmann..

    Reply

  • Ecko January 17, 2009 at 11:27 am

    Cerita dan tulisannya benar-benar menggugah.
    jadi inget diskusi di kelas saya beberapa hari yg lalu. Ceritanya ada teman yang menceritakan bagaimana seorang anak kecil di dekat rumahnya begitu bodoh, tapi rajin sekolah. Tidak pernah absen, tugas dan PR selalu digarap meski tidak pernah benar. Apa yang terjadi? Pas ujian dan kenaikan kelas, si anak tadi tidak naik.

    Kalau pemenang hanya dilihat dari pialanya, saya rasa proses mendapatkan piala itu justru yang lebih berharga.

    Eckos last blog post..Maaf, Saya (Sok) Sibuk

    Reply

  • Gelandangan January 17, 2009 at 6:41 am

    kirain lehmann bekas kipernya arsenal mas :D

    Reply

Post comment

CommentLuv Enabled

Random Posts

Recent Posts

Recent Search Terms

Recommended Site

Archives

Categories