Sep
2

Memilih Menjadi Rumput Kecil

Memilih menjadi rumput kecil, tidak salah jika keyakinan yang terbetik di kepala kita adalah untuk terhindar dari terpaan badai. Dan, kita mengambil kesimpulan dengan mengambil keputusan demikian karena yang tertulis dala saraf-saraf otak hanya itu bukan. Kalau saja pada saat mengambil sebuah keputusan tercuat beberapa pilihan lain, tentu takkan ada sejumput inginpun untuk memilih yang demikian itu.

Saya
percaya padamu yang memilih hidup telah terlalu memadai dengan sekedar menjadi rerumputan, sesungguhnya tidak menjadikan itu sebagai obsesi permanen. Aku yakin itu.

Rerumputan hanya menjadi makanan ternak. Takkan ada setitik banggapun kelak ketika jasad ini musnah, apalagi harus menyatu dalam tumpukan kotoran kerbau, sapi atau kuda di desamu. Rerumputan juga menjadi alas bocah-bocah yang berkejaran memainkan bola kaki. dan ini adalah sekelumit riwayat rumput.

Kita
bisa menjadi mutiara, tanpa mesti terpajang di etalase penuh lampu, pun kilaumu akan tetap memancar. Akan banyak mata yang terpukau. Terobsesi dengan keberadaanmu. Ah, ternyata mutiarapun tak lebih dari sekedar pajangan. Minta saja Tuhan untuk batalkan script taqdir yang pernah di tulis-Nya, bila yang pernah tertulis adalah seperti itu. Lantas kita harus menjadi apa kawan?

Kau
adalah manusia istimewa. Keistimewaan memang telah beratus abad dipaksakan untuk menjadi bahan ‘monopoli’ segelintir manusia serakah. Mereka katakan bahwa kau tidak akan bisa menggapai seperti yang pernah mereka dapat, menulilah. Galilah jiwamu yang sebenarnya terlalu dalam dan masih terus bisa digali, karena bukan figur picik yang menciptakan eksistensi jasadmu.

Tuhan pernah bisikkan pada nurani,”Aku lebih dekat dari urat lehermu sendiri.” Semakin mendekatlah dan mengemis saja padanya. Bentuk pengemisan pada Tuhan bukan sebuah nista,. Takkan membuat harkatmu terpuruk. Bukankah kemuliaan terbesar berada dalam esensi-Nya, itu akan memercik juga ke jiwamu. Yakin dan teruslah menengadah pada harapan yang takkan mati. Keyakinanmu adalah bahan bakar yang tidak sesederhana minyak bumi yang beberapa abad lagi akan mengering.

Related Post :

2 Comments to “Memilih Menjadi Rumput Kecil”

  • geLLy November 4, 2008 at 10:06 am

    WUIH ^_^ manteP bNGt pOstIngnya kK……

    tUll juga.,..

    Reply

  • Ramdahan, Mudik & Lebaran | mymoen blog September 26, 2008 at 8:05 pm

    [...] berbagai ritual ibadah, seperti shalat tarawih, sahur, tadarus, dan berbagai kegiatan yang berbau kontempelasi alias perenungan [...]

Post comment

CommentLuv Enabled

Random Posts

Recent Posts

Recent Search Terms

Recommended Site

Archives

Categories